You’re half of my life
Tetesan
demi tetes air hujan mulai jatuh menerpa tubuhku, rintikannya semakin lama
semakin deras seolah tidak memberikan
salah satu bagian tubuhku untuk tetap kering. Tapi aku tetap berdiri disini,
tidak beranjak dari tempat yang sudah aku singgahi selama satu jam ini. Ah….
Entahlah, aku rasa bukan kakiku yang tidak mau melangkah pergi, tapi hatiku
yang tidak mengijinkan aku untuk meninggalkan tempat ini. Haruskah??, iya
harus. Karena aku rasa ini adalah sesuatu yang pantas aku dapatkan. Karena
kebodohanku, aku telah menyakiti orang yang berharga, tidak… seseorang yang
benar-benar berharga untukku. Orang yang tak pernah aku menyadari akan
keberadaannya. Orang yang selalu disampingku. Orang yang selalu ada untukku.
Sahabatku ….
***
15 november 2011
“hey,,,Rangga
selamat ulang tahun” ucap seorang gadis tersenyum kearahku. Aku membalas
senyumnya. Dan berbalik arah, berjalan menghampirinya
“terima
kasih, rena aku-“
“hey
bro…happy bhirtday, tamba tinggi aja pagi ini”. Aish… sial!kenapa mereka datang
disaat seperti ini sih?.. Padahal aku ingin mengajak gadis didepanku ini dating untuk perayaan ulang tahunku.
Tapi karena ulah teman-teman klub kendoku
ini kesempatanku sepertinya akan hilang.
“hey,,kalian ingin
dapat pukulanku??hah..” jawabku membalas mereka. Berani sekali mereka
menjatuhkan harga diriku seperti ini. Asal kalian tahu saja, aku cukup sensitif
dengan TINGGI BADAN.
“aduh…anak
ini,mentang-mentang dia sekarang ulang tahun. Ok,ok untuk kali ini kita semua tidak
akan membahasnya, tapi cukup satu hari. liat aja kalo moment ultah kamu udah
lewat, tempat latihan nanti kamu yang harus membersihkannya”temanku yang lain
menyahuti. Lalu kami tertawa bersama, aku sampai lupa kalau rena ada
disampingku. Ah… iya,
“rena-“.ah, dia sudah
pergi, mungkin dia bosan karena kedatanganan teman-temanku. Yasudahlah…
“hey,,,ayo masuk kelas,
sebentar lagi Mr. Bondan datang”kami semua segera berlari kearah kelas. Semoga
guru kiler itu belum sampai kedalam. Bisa-bisa hariku yang indah ini akan
rusak.
Aku melangkah masuk
kedalam kelas, untungnya Mr. belum datang, untuk kali ini aku. Aku melihat kearah
bangku yang ada di ujung belakang, tempat dudukku. Bangku disebelahku tidak
kosong, karena penghuninya sudah duduk manis di atasnya. Aku segera
menghampirinya, aku berniat memarahinya.
Karena ia tidak mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Padahal selama ini ia
selalu menjadi orang pertama yang mengucapkannya.
“Yuki,, sekarang
tanggal berapa?”aku mengeser kursiku dan
duduk disampingnya. Ekspresi wajahku tetap biasa, seolah aku hanya sekedar
basa-basi, padahal sebenarnya aku sengaja memancingnya terlebih dahulu. Aku
coba memperhatikan reaksinya walau aku berpura-pura mengeluarkan buku-buku
untuk pelajaran pertama sekarang.
“15 november , ultah
kamu kan? Selamat.”ia menjawab, tapi dengan nada yang biasa. Ia hanya
memandangku sekilas dan kembali mengarahkan pandangannya pada buku di depannya.
Apa - apan ini? Pandangannya itu, aku merasa ada yang aneh. Berbeda dari
tatapan biasanya.Aku tertegun melihat sikapnya. Ada apa ini? Apa yang terjadi
padanya? ia yang aku kenal periang, unik, dan yang selalu mengucapkan selamat
ulang tahun untukku dengan caranya yang manis. Tapi hari ini ia berubah.
Tatapan matanya menunjukan kekosongan. Hampa, seolah walau aku ada didepan matanya,
bayanganku tidak ada disana.
“ apa ada masalah ,,?”aku menulis di buku
catatanku dan kusodorkan kearahnya, saat ini pelajaran mulai berlangsung. Tapi
aku masih penasaran, sehingga kucoba untuk bicara padanya. Ia melirik buku yang
kusodorkan dan sepertinya ia sedang membaca pesanku, cukup lama hingga akhirnya
ia menjawab.
“Tidak ada apapun. Lebih
baik kau perhatikan papan.”itu jawabannya, tapi hanya jawaban datar. Ia tidak
memberikan respon atau ekspresi lain. Entah apa yang membuatnya seperti ini, ia
berubah.
“nona Yuki,, karena
sekarang ulang tahunku aku mau kamu traktir aku pizza. Wajib!!”aku menghentikan
langkahnya saat akan keluar kelas dengan merangkul bahunya. Aku yakin, setelah
ini dia akan mengelak dengan berdalih banyak alasan. Karena ia tipe orang yang
tidak suka mentraktir. Tapi….
“ Nanti malam kita bertemu di depan cafĂ©
biasanya”. Apa? ia mengiyakan permintaanku. Ini diluar kebiasaan.
“ah…nanti
malam?o..ok..di-di tempat biasa kan? baik” aku jadi tergagap menghadapi
sikapnya. Karena ini memang tidak biasa, ah…aku sadar, mungkin ia sedang mengerjaiku sekarang. Ia kan selalu
seperti itu saat ulang tahunku. Pasti nanti pulang sekolah ia akan mengatakan
“SURPRISEE!!!AKU MENGERJAIMU KARENA SEKARANG ULANG TAHUNMU” sambil tertawa
lepas dan menampakan ekspresi menjengkelkanya itu. Itu pasti dan akan aku
tunggu.
Satu hari berlalu
berlalu disekolah tanpa terjadi apa-apa. Padahal aku berfikir sikap Yuki yang
aneh sejak tadi pagi akan berakhir saat kita pulang dan ia akan mengatakan “ surprise…” sebagai kejutan atas ulang tahunku hari ini.
Tapi itu tidak terjadi.
Justru tingkah laku
nona sombong ini terlihat berbeda dimataku walaupun ia mengatakan tidak ada
yang terjadi, dan ia tidak apa-apa. Aku yakin ia berbohong, tapi untuk apa? Apa
seseorang menggangunya dan ia menyembunyikannya dariku?. Ataukah memang ini
hanya perasaanku saja, atau aku baru menyadari kalau sebenarnya ia juga
mempunyai sifat yang seperti ini?.yah,walaupun ia terlihat angkuh tapi ia tidak
pernah bersikap seperti ini padaku.
Tapi perasaanku tak
salah, karena setelah pulang sekolah saat aku berlatih kendo bersama yang
lainnya dan nona manis itu juga termasuk didalamnya aku melihat sesuatu yang
benar-benar berbeda. Ia menjadi sosok yang berbeda. Lebih angkuh, sombong,
terkesan dingin, bahkan ia tak tersenyum saat bermain kendo, saat mengayunkan
pedangnya
Pandanganku mulai
beralih pada gadis yang duduk di pinggir lapangan memperhatikan kami bermain.
Tidak, tepatnya memperhatikan seseorang diantara kami. Gadis itu bernama, Nell.
Ia mantan gadis incaranku. Tapi aku memutuskan tidak mengejarnya lagi karena
sekarang aku tahu keburukannya. Ia tidak pernah serius dengan satu orang, dan
aku harus mengakui aku sempat tertipu olehnya. Tapi untung saja aku segera
mengetahui yang sebenarnya. Ah…. Aku ingat, apakah karena masalah Nell dan
pertengkaran kami yang terakhir sehingga nona angkuh itu menjadi se-menyebalkan
ini dimataku.
Tapi mustahil, karena
setahuku Yuki bukan tipe orang yang akan
mendengarkan perkataan orang lain. Dan setahuku ia tidak memperdulikan dan
tidak pernah mempermasalahkan saat kita berdebat satu sama lain.
“ Yuki Adhinata…aku
ingin bicara”ucapku menghentikan langkahnya yang berjalan melewatiku.
“apa ada hal yang
penting?”ia tidak berbalik saat menjawabnya. Aku menghela nafas, aku merasa ini
akan sulit.
“kamu kenapa jadi
begini?”
“ kau bertanya
pertanyaan yang sama dua kali.”ia tetap tidak berbalik
“aku tahu ini bukan
dirimu, apa sesuatu terjadi saat kau tidak masuk?ah… ia,kenapa kau tidak masuk
selama 2 hari?apa kau-“
“apa urusanmu?”ia
memotong perkataanku.
“a…aku,itu karena aku
pedu-“
“peduli?eh..apa
pedulimu?apa aku ada hubunganya denganmu?”ia kembali memotong perkataanku, tapi
ia tetap tidak berbalik menghadapku. Sehingga aku tidak bisa membaca raut
wajahnya sekarang. Tapi aku merasakan nada bicaranya yang berbeda. Ia terlihat
seperti menahan emosinya.
“aku tidak tahu apa
maksudmu,karena menurutku ini percakapan yang tidak penting. Aku pergi.”ia
mulai berjalan lagi.
“berhenti!!”ucapku
setengah berteriak, aku mulai tidak bisa menahan emosi. Tapi ia tetap berjalan,
seakan ia tidak mendengarkan ucapanku. Aku tidak terima.
“aku bilang berhenti Yuki
Adhinata..!!”aku mulai berjalan untuk mendekat kearahnya. Aku pegang bahunya
untuk berbalik kearahku, tapi sebelum ia benar-benar menghadap kearahku ia-
“kau yang harus
berhenti Rangga. Tidak bisakah kau mempermudahku.”ia berbicara sebelum ia benar
berbalik menghadapku. Aku merasakan bahunya bergetar.
“a..apa maksudmu?”
“berhentilah berkata
seolah kau tahu segalanya tentangku. Tahu apa kau tentangku ?siapa kau?”
“aku,tentu saja aku
sahabatmu. Aku sudah kenal kau selama 4 tahun dan aku banyak tahu tentang kau,
jadi-“
“Apa kau lupa tentang
apa yang kita bicarakan terakhir kali?, tak bisakah kau mempermudahku untuk melakukanya” nada suaranya mulai melemah.
“sahabat kau bilang?apa
kata-katamu malam itu menunjukan kau sahabtku?!” aku tersentak, nada bicaranya
mulai meninggi. Ia terlihat benar-benar menahan emosinya. Malam itu?apa maksud
perkataannya?apa mungkin-
***
“rangga…aku
ingin bicara sama kamu,ini penting. Tentang Nell. Aku-“
“tidak
bisakah kau berhenti ikut campur”
“Apa?,ak-“
“aku
tanya padamu,tidak bisakah kau berhenti ikut campur?aku muak kau selalu
mengatakan Nell inilah, Nell itulah,aku muak Yuki. Aku menyukainya, dan aku
percaya dia tidak seperti yang kau katakan jadi jangan lakukan hal yang
sia-sia”
“tapi
kau tidak mengerti ini Rangga…kali ini aku benar-benar melihat dengan mataku
sendiri kalau dia pergi dengan-“
“laki-laki?ya,
aku tahu ia pergi dengan kakaknya. Apa yang salah dengan itu? Sudah Yuki, cukup
untuk terus menyudutkanya. Jujur saja sekarang aku tidak bisa percaya padamu
lagi. Bagiku sekarang kau orang asing. Kau tidak pernah mendukung apapun yang
aku lakukan dengan Nell.”
“kau
selalu mengatakan Nell murahan. Ia gampangan. Ia bukan gadis baik-baik. Lebih
dari itu apa kau tidak melihat kearah dirimu sendiri?jujur saja di mataku
justru kau yang terlihat MURAHAN.”
“Rangga,,,”
“iya,
dimataku kau terlihat murahan. Kau mudah dekat dengan lelaki manapun. Tapi kau
justru terlihat acuh dengan teman wanita sekitarmu. Kau yang terlihat
gampangan, dan jujur saja selama ini banyak yang mengatakan padaku tentang
ini.”
“selama
ini aku selalu membelamu karena aku tahu alasanmu melakukannya. Tapi saat aku
fikirkan lagi apa yang dikatakan orang-orang itu, jujur saja menurutku itu
benar. “setelah apa yang aku pendam selama ini keluar semua aku mulai tenang.
Tapi sebaliknya Yuki terlihat terkejut.
“jadi
itu yang selama ini kau fikirkan tentangku. aku murahan. Aku menganggumu. Baik
aku akan berhenti.” Akhirnya ia bersuara
tapi kepalanya masih tertunduk
“maafkan
aku jika segala yang aku lakukan selama ini menggangumu. Mulai sekarang hal itu
tidak akan terjadi lagi”iapun pergi.
***
Apakah
maksud perkatannya malam itu adalah ini. Ia berubah untuk membuktikan ucapannya
padaku. Tapi apa harus seperti ini. Aku akui aku yang salah. Tidak seharusnya
aku mengatakan hal seperti itu. Tentu saja itu pasti melukainya. Ditambah Yuki
benar tentang Nell, ia selama ini memanfaatkan aku saja.
“Yuki
aku-“
“
apa kau ingin mengatakan maaf? tidak perlu. Itu tidak penting sekarang.”
“
ok kalau itu menurutmu tapi tidak untukku. Jika apa yang terjadi hari ini
adalah karena malam itu sudah seharusnya ini menjadi tanggung jawabku,jadi-“
“berhenti
seolah kau peduli!!!”ia berteriak dan membalikan badan melihatku. Aku tersentak
mendengarnya. Dan saat aku melihat kematanya aku melihat ia, Menangis.
“Yuki…”aku tertegun. Ini pertama
kalinya aku melihat ia menangis.
“
udah cukup. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku pergi.”
Yuki
pun berlalu, ia pergi meninggalkan aku yang tetap berdiri terpaku memikirkan
kata-katanya. Apa selamai ini ia selalu memendam perasaan itu. Apa selama ini
aku hanya bersikap ‘seolah peduli’ saja? Tidak Yuki, aku tidak berpura-pura aku
bersungguh-sungguh.
“Yuk-…..”
Syut,,,,,,,,,,,,,,,,,,,bruk,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
“i……”aku
berbalik mendengar suara itu. Sesuatu terjadi disana, dan yang pertama kali
yang aku lihat adalah
“Yu….ki,Yuki…..”suaraku
serasa sudah habis tersendat di tenggorokan. Aku melihat sosok tubuh yang
tergeletak di atas aspal di tengah jalan
raya yang sepi. Senja di ufuk timur memberikan kesan mengerikan atas apa yang
aku lihat sekarang. Tubuh mungilnya yang bersimbah darah tak sadarkan diri
disana, terbaring di depan sebuah truk besar yang sepertinya menjadi penyebab
mengapa Yuki bisa terbaring disana.
Aku
segera berlari menghampiri tubuhnya. Aku memangku tubuhnya seolah dengan begitu
aku bisa membuat ia membuka kelopak matanya yang mulai tertutup.
“Yuki…..bangun
Yuki……Yuki ,,,,,,,”
“Yuki
kamu pasti denger suaraku,sadar….Yuki buka mata kamu….Yuki ayo bangun…”aku
panic. Aku terus menggoncangkan tubuhnya seolah hal itu akan benar-benar
membuat ia terbangun dan menatapku lagi. Tapi ia tak bereaksi.
Ambulans
segera datang dan ia dibawa kerumah sakit. Aku mengantarkannya sampai tiba di
ruang UGD. Selama perjalan kesana aku tetap memegan tangannya berusaha
menguatkan padanya kalau aku disini. Orang tua Yuki datang, kami menunggu di
depan ruang operasi selama kurang lebih satu jam. Kami menunggu dengan gelisah.
Aku selalu berdoa ia akan baik saja. Aku yakin ia akan selamat.
Tidak
berapa lama dokter keluar. Wajah mengatakan sesuatu yang tidak baik. Firasatku
buruk. Dan jantungku berdegup kencang.
“maaf,
nyawa saudari tidak dapat terselamatkan”. Aku terkejut. Jantung yang awalnya
berdegup kencang entah kenapa rasanya telah berhenti. Apa itu berarti ini mimpi
karena aku tidak merasakan apa-apa lagi. Tidak Ini tidak mimpi. Noda darah yang
ada ditangan, dibajuku, noda yang sudah mengering ini bukan mimpi. Aku sadar
ini nyata. Apa berarti Yuki….
Ibu-nya berteriak
menangis histeris. Sementara ayah-nya, berusaha menenangkannya. Dokter sudah
beranjak pergi meninggalkan kami. Sedangkan aku? Aku hanya duduk terdiam.
Badanku sudah lemas. Aku tidak bisa bergerak lagi. Ini tidak mungkin. Yuki
tidak mungki mati. Ia tidak mungkin mati.
Malam
itu aku menagis histeris. Namun aku tetap menagis dalam diam. Tidak ada orang
yang melihat air mataku jatuh karena aku terus menundukan kepalaku. Aku
menangis atas kepergiannya. Aku menyesal. Aku benar-benar menyesal.
***
Aku tersadar dari
lamunanku dibawah guyuran air hujan. tepat satu bulan berlalu sejak kecelakan
itu. Seharusnya sekarang adalah hari ulang tahunnya yang ke-17, namun ia pergi
bahkan sebelum menerima kado special yang akan diberikan orang-orang yang
menyayanginya. Ia telah pergi. Ia tidak lagi ada disana.
Hanya tertinggal
penyesalan dalam diriku. Atas semua yang sudah aku lakukan padanya. Aku baru
sadar dan aku baru tahu bahwa sebenarnya sikapnya hari itu adalah dirinya yang
sebenarnya. Ah….bukan. itu adalah dirinya yang dulu sebelum ia bertemu
denganku. Sebelum ia bertaruh padaku bahwa ia akan masuk dalam kehidupanku.
Darimana aku tahu?
Aku mengetahuinya dari
buku harian miliknya. Dihari itu, ia sebenarnya mengingat ulang tahunku. Ia
juga menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat padaku dengan caranya yang
unik seperti dugaanku. Satu minngu sebelumnya, ia telah mengirimkan hadiah
untukku. Sehingga nanti tepat dihari ulang tahunku aku akan menerima paket
darinya.bukankah itu manis?
Buku harian itu aku
temukan di dalam tasnya. Dan inilah yang menjadi alasan mengapa aku datang
kesini hari ini. Di makamnya. Tepat dihari ulang tahunnya. Aku ingin
mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
“selamat ulang tahun
Yuki…maafkan aku selama ini tidak menyadari perasaanmu. Kau salah jika berfikir
selama ini aku membencimu, aku tidak menghargaimu, dan aku tidak mengangapmu
ada. Kau salah. Kadang kau memang menyebalkan, tapi dibalik itu semua aku
bersyukur pernah bertemu denganmu. Menjadi sahabatmu. Maaf karena selama ini
membiarkanmu merasakan sendirian. Maaf jika aku benar tak menghargaimu, tak
menganggapmu ada, serta tak memperdulikanmu. Sekarang aku sadar bahwa justru
kau satu-satunya orang yang berharga untukku.”
Sahabatku…….
